Selasa, 25 Agustus 2009

Petani Karet Harus Kreatif

Selama ini di Kabupaten Kutai Kartanegara masih ada sejumlah petani karet yang hanya mengandalkan hasil dari karet saja, padahal jika petani mau kreatif, maka lahan karet tersebut bisa diintegrasikan dengan ternak sapi.
“Waktu yang digunakan untuk berkebun karet dalam sehari hanya sekitar 2 jam, jika sisa waktu tersebut digunakan untuk beternak sapi di areal kebun karet, maka akan lebih bermanfaat,” kata Penjabat Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Sjahruddin.
Dikatakan, dengan melakukan pola integrasi ternak sapi- kebun karet, maka penghasilan petani akan bertambah hingga berlipat ganda. Selain sapi yang bisa dijual, kotoran sapi juga bisa dijadikan pupuk kandang untuk dijual.
Menurutnya, berkebun sambil beternak sapi yang diutarakan itu hanya merupakan sebagian contoh saja, masih banyak usaha lain yang bisa dilakukan para petani karet untuk mendapatkan penghasilan tambahan, misalnya dengan beternak kambing, ternak unggas dan usaha lainnya.
“Waktu yang digunakan petani untuk menyadap karet hanya dua jam, taruhlah tiga jam ditambah dengan pekerjaan tak terduga lain. Nah sisa waktu itulah bisa digunakan untuk usaha kreatif lain, sehingga petani bisa lebih sejahtera,” katanya.
Saat ini di Kukar terdapat lahan perkebunan karet seluas 6.612 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain Muara Badak, Marang Kayu, Muara Jawa dan Kecamatan Samboja.
Menurutnya, dengan beternak sapi atau lainnya di areal perkebunan karet, maka petani juga membantu pemerintah dalam usaha menekan angka kemiskinan, pasalnya dengan bertambahnya peternakan berarti membuka lapangan kerja baru. Ini berarti petani bisa mengurangi angka pengangguran.
“Di daerah lain, seperti di Kabupaten Paser sudah melakukan hal ini, yakni pola integrasi sapi-sawit yang kini dikembangkan dengan integrasi sapi-karet. Kita harus mencontoh jenis usaha kreatif ini,” katanya.
Jika petani memiliki usaha sampingan seperti itu, lanjutnya, maka selain petani bisa hidup lebih makmur dan sejahtera, juga untuk mengantisipasi jika suatu saat nanti harga karet sedang anjlok atau hasil panen sedang tidak bagus, sehingga petani masih memiliki penghasilan cadangan.
“Saya juga minta kepada Dinas Perkebunan dan Peternakan Kukar agar bekerjasama guna melirik usaha integrasi karet-sapi tentang permodalan dan pembinaan, sehingga cita-cita mewujudkan rakyat sejahtera bisa terealisasi,” kata Sjahruddin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar